Perkebunan Kelapa Sawit.
XBerita|Fenomena banjir besar dan longsor yang menghantam Sumatera dan beberapa wilayah lainnya pada akhir 2025 menyisakan pertanyaan krusial: mengapa puncak bencana ini begitu parah di lanskap yang kini didominasi perkebunan kelapa sawit? Jawabannya tidak hanya soal cuaca ekstrem, tetapi juga perubahan fungsi lahan yang memengaruhi kemampuan tanah dan vegetasi dalam menahan air dan memelihara stabilitas lereng.
Kelapa sawit, meskipun tampak hijau dan berakar, memiliki sistem akar yang relatif dangkal, sekitar 1,5–2 meter dengan pola monokultur yang seragam dan jarak tanam konsisten. Ini berbeda jauh dengan hutan hujan tropis yang memiliki beragam spesies dengan akar saling terkait, dari akar dangkal hingga dalam yang mampu memperkuat tanah dan membantu penyerapan air hujan secara signifikan.
Akibatnya, setiap tetes hujan yang jatuh di atas sawit cenderung langsung mengalir sebagai limpasan permukaan (runoff) ketimbang terserap jauh ke dalam tanah, sebuah mekanisme yang lemah dibanding hutan alami yang secara ekologis mampu menyimpan dan melepaskan air secara bertahap.
Perubahan Tutupan Lahan: Dari Resapan Air Jadi Jalan Air
Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa konversi hutan ke perkebunan sawit atau deforestasi secara drastis mengubah sifat tanah dan pola aliran air. Tanah yang dibuka dan dipadatkan selama pembukaan lahan menurunkan kemampuan infiltrasi air, sementara ruang terbuka antar tanaman sawit mempercepat jatuhnya hujan langsung ke permukaan, memicu erosi dan mempercepat aliran air ke sungai.
Selain itu, studi di wilayah Aceh mengaitkan ekspansi perkebunan sawit dengan penurunan permukaan tanah (subsidence), yang kemudian memperluas wilayah rawan banjir secara dramatis. Lahan yang dulunya setinggi muka air kini turun hingga lebih dari satu meter akibat konversi lahan, mengubah pola banjir dari kejadian lima tahunan menjadi hampir tahunan.
Data empiris juga menunjukkan bahwa alih fungsi lahan berkorelasi dengan peningkatan erosi tanah dan sedimentasi sungai. Tanpa sistem vegetasi yang kuat seperti hutan alami, tanah di lereng cepat larut oleh arus deras saat hujan ekstrem, menyumbang material longsor yang menghantam infrastruktur dan pemukiman di bawahnya.
Hujan Ekstrem Bertemu Lanskap Rentan
Curah hujan ekstrem, lebih dari 1.000 mm dalam beberapa hari di wilayah Sumatera Utara, memicu banjir dan longsor hebat yang menewaskan ratusan orang dan menghancurkan habitat satwa langka seperti orang utan Tapanuli.
Sementara klimatolog memperingatkan dampak perubahan iklim terhadap intensitas hujan, para pakar aktivis lingkungan hidup juga menyoroti bagaimana deforestasi dan konversi hutan menjadi sawit memperparah dampak bencana karena mengurangi kapasitas alamiah lanskap untuk menyerap dan menahan air.
Walaupun kelapa sawit berperan penting secara ekonomi, dari perspektif hidrologi dan mitigasi bencana alam, ia tidak mampu menggantikan fungsi ekologis hutan alami.
Struktur akar yang dangkal, monokultur yang homogen, penurunan infiltrasi tanah, dan perubahan morfologi lahan setelah konversi semuanya menunjukkan bahwa sawit — meski hijau — tidak memberikan ketahanan terhadap banjir dan longsor seperti yang dilakukan hutan tropis utuh.
Dalam konteks Indonesia yang sering menghadapi curah hujan ekstrem, pemahaman ini menjadi kunci dalam merumuskan kebijakan ruang dan pengelolaan lanskap yang tidak hanya memaksimalkan produksi, tetapi juga memitigasi risiko bencana yang semakin sering terjadi.
