Selat Hormuz.
XBerita.com – Sejumlah kalangan ekonom memperkirakan harga minyak naik mencapai 100-120 dolar AS per barel jika perang Iran terus berlanjut.
”Proyeksi harga minyak mentah dapat menembus 100-120 dollar AS per barel,” kata Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira kepada wartawan, dikutip hari ini.
Kenaikan dipicu gangguan pasokan dan tingginya risiko logistik di kawasan konflik Timur Tengah dan negara gurun tersebut. Indonesia yang masih menjadi net importir minyak berada dalam posisi rentan.
Penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan akan menyebabkan resesi global. Artinya, risikonya bukan sekadar lonjakan sementara.
Sebagai net importir minyak, Indonesia langsung terdampak saat harga naik. Biaya impor membengkak dan beban negara atau APBN bertambah.
Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira mengatakan lonjakan harga akan memperbesar subsidi BBM, kompensasi energi, dan subsidi listrik.
Jika bertahan lama, tambahan beban bisa mencapai ratusan triliun rupiah dan mempersempit ruang fiskal.
”Imported inflation dari minyak akan menciptakan spiral penurunan daya beli masyarakat,” kata Bhima.
Komoditas impor seperti kedelai, gandum, dan daging akan naik harganya akibat pelemahan rupiah dan mahalnya ongkos logistik. Jika berlangsung lama, tekanan terhadap masyarakat akan semakin besar.
Sementara itu, Wakil Presiden (Wapres) ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla mengingatkan risiko serius jika konflik berkepanjangan. Cadangan BBM nasional rata-rata hanya cukup sekitar tiga minggu.
”Jadi masalahnya ya kita biasanya mengimpor minyak dari Timur Tengah karena kita kekurangan. Sekarang pasti setop. Jadi ekonomi kita akan terkena di situ. Hati-hati dalam waktu yang apabila ini lama. Mudah-mudahan cepat selesai,” kata Jusuf Kalla.
Ketua Tax Payer Community (Masyarakat Pembayar Pajak Indonesia) berharap Perang Iran segera dihentikan. Negara-negara yang bertikai dapat mencapai solusi damai. Karena setiap warga negara tidak rela uang pajak yang mereka bayar dipergunakan untuk perang yang menambah kesengsaraan dan penderitaan rakyat. Bahkan, warga Amerika Serikat di New York City dan berbagai lokasi juga melakukan aksi unjuk rasa menuntut perang dihentikan.
“Kami mengapresiasi Presiden RI Prabowo Subianto yang menyatakan bersedia menjadi mediator perdamaian antarnegara yang berperang,” kata Koni.
Laporan dari Al Jazeera menyebutkan, ledakan masih terdengar di Teheran dan Iran siap meningkatkan eskalasi perang. Ketidakpastian tetap tinggi dan pasar global berpotensi terus bergejolak.
Jika konflik cepat mereda, pasar mungkin menyesuaikan. Namun bila berlarut-larut, risiko krisis energi dan perlambatan ekonomi global makin besar. Dampaknya bukan hanya soal geopolitik, tetapi bisa terasa hingga harga BBM, harga pangan, dan nilai tukar rupiah.





