Presiden Prabowo Subianto.
Jakarta, XBerita – Presiden Prabowo Subianto meminta jajaran Menteri Kabinet Merah Putih menyiapkan berbagai skenario efisiensi energi nasional di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global yang berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia.
Salah satu langkah yang mulai dipertimbangkan pemerintah adalah penerapan kerja dari rumah (Work From Home/WFH) serta pengurangan hari kerja untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM), terutama dari sektor transportasi.
Arahan tersebut disampaikan Prabowo dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3/2026), ketika membahas perkembangan situasi geopolitik yang memanas di kawasan Eropa dan Timur Tengah.
Menurut Presiden, konflik dan ketidakpastian global berpotensi memicu lonjakan harga energi yang pada akhirnya berdampak langsung terhadap ekonomi domestik.
“Perkembangan global di Eropa dan Timur Tengah tentu memberi dampak kepada kita karena akan memengaruhi harga BBM. Harga BBM juga bisa memengaruhi harga makanan,” ujar Prabowo.
Harga Minyak Dunia Tembus USD100 per Barel
Kekhawatiran pemerintah bukan tanpa alasan. Dalam beberapa pekan terakhir, harga minyak dunia melonjak tajam akibat meningkatnya ketegangan geopolitik serta gangguan pasokan energi global.
Data perdagangan energi global menunjukkan harga minyak mentah acuan Brent berada di kisaran USD103 per barel, sementara minyak acuan Amerika Serikat WTI (West Texas Intermediate) berada di sekitar USD95–99 per barel.
Dalam sebulan terakhir saja, harga minyak mentah global tercatat melonjak lebih dari 50%, menunjukkan volatilitas yang sangat tinggi di pasar energi dunia.
Sejumlah laporan pasar energi bahkan menyebut harga minyak sempat menembus USD100 per barel akibat kekhawatiran gangguan pasokan minyak global dari kawasan Timur Tengah.
Apabila konflik geopolitik semakin meluas atau jalur distribusi energi terganggu, harga minyak dapat melonjak lebih tinggi lagi.
Ketegangan Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasokan Energi
Lonjakan harga minyak dunia tidak lepas dari memanasnya situasi di Timur Tengah, termasuk potensi gangguan jalur energi di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia setiap hari.
Ketika jalur energi ini terganggu, pasar global langsung bereaksi karena pasokan minyak mentah dari negara-negara produsen utama seperti Arab Saudi, Irak, dan Iran bisa terhambat.
Konflik regional bahkan sempat mendorong harga minyak global melewati USD100 hingga USD114 per barel, level yang memicu kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi dan perlambatan ekonomi dunia.
Sejumlah lembaga keuangan global juga memperkirakan harga minyak mentah Brent berpotensi bertahan di atas USD100 per barel dalam jangka pendek apabila gangguan pasokan energi terus berlanjut.
Dampak Langsung ke Ekonomi Indonesia
Bagi Indonesia yang masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak, kenaikan harga energi global dapat memberikan tekanan besar terhadap perekonomian nasional.
Harga BBM yang naik tidak hanya berdampak pada biaya transportasi, tetapi juga dapat memicu kenaikan harga berbagai komoditas, terutama pangan, karena meningkatnya biaya distribusi dan logistik.
Dalam kondisi seperti ini, pemerintah biasanya menghadapi dilema antara menjaga stabilitas harga BBM di dalam negeri atau menambah beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Oleh karena itu, pemerintah mulai menyiapkan berbagai skenario efisiensi energi, termasuk opsi WFH dan pengurangan hari kerja, sebagai langkah mitigasi untuk mengurangi konsumsi bahan bakar jika krisis energi global benar-benar terjadi.





