Jakarta, XBerita.com – Budaya kerja fleksibel dan kebiasaan nongkrong sambil bekerja di kafe ternyata menyimpan risiko serius. Laporan keamanan siber terbaru mencatat lonjakan aktivitas Rogue Access Point di kawasan perkantoran dan pusat kuliner Jakarta.
Salah satu modus yang paling berbahaya adalah teknik yang dikenal dengan nama Evil Twin.
Modus ini tidak baru, namun efektivitasnya masih tinggi karena memanfaatkan kebiasaan pengguna yang cenderung abai terhadap keamanan jaringan WiFi publik.
WiFi Gratis, Jebakan Nyata
Skenarionya sederhana. Seseorang datang ke kafe, memesan kopi, membuka laptop atau ponsel, lalu melihat jaringan WiFi dengan nama familiar seperti “Cafe_Guest_Fast” atau nama populer wifi gratisan lainnya. Tanpa berpikir panjang, koneksi dilakukan karena sinyal terlihat kuat dan aksesnya gratis.
Namun, yang terhubung bukanlah router resmi milik kafe.
Pelaku Evil Twin menggunakan perangkat kecil—bahkan bisa seukuran power bank—yang memancarkan jaringan WiFi palsu dengan nama (SSID) dan identitas perangkat (MAC Address) yang meniru jaringan asli.
Dalam banyak kasus, router resmi kafe sengaja “dipaksa mati” agar pengguna otomatis berpindah ke jaringan palsu tersebut.
Bukan Mengintip, Tapi Merekam
Begitu korban terhubung, pelaku dapat memantau lalu lintas data secara real time. Saat pengguna membuka email, login mobile banking, mengakses dompet kripto, atau masuk ke akun media sosial, seluruh aktivitas tersebut berpotensi direkam.
“Ini bukan sekadar pencurian password. Data sesi, cookie login, hingga kredensial sensitif bisa diambil dan digunakan ulang,” kata Hairul Anas Suaidi pakar telekomunikasi, satelit dan jaringan, Sekjen Ikatan Alumni ITB kepada XBerita.
Dampaknya tidak langsung terasa. Korban sering baru menyadari setelah saldo berkurang, akun diambil alih, atau identitas digital disalahgunakan.
Mengapa Sulit Dideteksi?
Masalah utama dari serangan Evil Twin adalah perangkat pengguna tidak mampu membedakan jaringan asli dan palsu. Selama nama WiFi sama dan sinyal kuat, sistem operasi akan menganggapnya sah.
Inilah yang membuat serangan ini berbahaya bagi pekerja remote, jurnalis, pebisnis, hingga mahasiswa yang sering bergantung pada WiFi publik, mencari wifi gratisan.
Fakta Pahit di Era Digital
Di tahun 2026, keamanan digital bukan lagi isu teknis semata, melainkan soal gaya hidup. Mengandalkan WiFi gratis tanpa perlindungan ibarat mempertaruhkan identitas digital sendiri.
Para ahli menyebut kondisi ini sebagai paradoks modern: koneksi semakin mudah, tetapi risiko semakin tinggi.
Sebagai langkah pencegahan, pengguna disarankan untuk:
-Menghindari login ke layanan sensitif (perbankan, kripto, email utama) saat menggunakan WiFi publik
-Memastikan nama WiFi dengan staf resmi kafe atau lokasi publik
-Mengaktifkan VPN terpercaya saat terpaksa menggunakan jaringan umum
-Mematikan fitur auto-connect WiFi pada perangkat
-Menggunakan koneksi data pribadi (tethering) untuk aktivitas penting
WiFi gratis memang menawarkan kenyamanan, tetapi di balik sinyal kencang bisa tersembunyi ancaman serius. Serangan Evil Twin membuktikan bahwa ancaman siber kini semakin dekat dan personal. Kesadaran pengguna menjadi benteng pertama. Karena di era digital, yang dipertaruhkan bukan hanya saldo rekening, tetapi juga identitas Anda.
