
New York, XBerita – Jutaan warga Amerika Serikat (AS) menggelar aksi unjuk rasa atau demonstrasi besar-besaran menentang kebijakan Presiden Donald Trump dan menuntut agar perang di Iran segera dihentikan dalam aksi protes ‘No Kings’ pada Sabtu (28/3/2026) waktu setempat. Massa meneriakkan “End this war (hentikan perang ini)” di sejumlah titik aksi.
Aksi yang disebut sebagai protes satu hari terbesar dalam sejarah AS ini melibatkan sedikitnya 8 juta peserta di lebih dari 3.300 lokasi di 50 negara bagian.
“Kami mencatat 8 juta peserta yang hadir, dan kami menargetkan lebih dari 9 juta,” ujar perwakilan penyelenggara Koalisi No Kings, Sabtu (28/3/2026) seperti dilansir Reuters.
Kemarahan publik dipicu serangan AS dan Israel ke Iran yang telah berlangsung empat pekan, ditambah kebijakan imigrasi agresif serta melonjaknya harga minyak dan kebutuhan pokok yang membuat susah rakyat. Gelombang protes ini terjadi seiring anjloknya tingkat kepuasan publik terhadap Trump yang kini hanya tinggal 36 persen.
Jutaan warga AS berkumpul di pusat-pusat kota seperti New York, Washington DC, Chicago, Boston, San Diego, hingga Philadelphia.

Bahkan, sejumlah laporan menyebut angka partisipasi bisa menembus hingga 8 juta orang menjadikan gerakan ini sebagai salah satu mobilisasi rakyat terbesar dalam satu hari di AS.
Gelombang kemarahan publik dipicu oleh berbagai kebijakan Presiden Donald Trump yang dinilai kontroversial. Mulai dari keterlibatan militer dalam konflik Iran yang telah berlangsung beberapa pekan, kebijakan imigrasi yang agresif, hingga tekanan ekonomi akibat kenaikan biaya hidup.
Tak hanya itu, isu pembatasan hak-hak sipil dan dugaan penyalahgunaan kekuasaan juga menjadi bahan bakar utama aksi. Para demonstran membawa satu pesan tegas: Amerika bukan kerajaan bahwa kekuasaan ada di tangan rakyat, bukan raja.
Gerakan “No Kings” sendiri bukan aksi dadakan. Ini adalah gelombang ketiga sejak 2025, yang terus membesar dan kini menjelma menjadi simbol perlawanan terhadap apa yang mereka sebut sebagai kecenderungan otoritarianisme di Gedung Putih.
Demo “No Kings” menjadi indikator kuat meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap pemerintahan saat ini. Dengan jutaan orang turun ke jalan, tekanan politik terhadap Donald Trump dipastikan semakin besar dan berpotensi memengaruhi arah politik Amerika Serikat ke depan.
Satu hal yang jelas: gelombang ini belum berakhir. Demonstrasi lanjutan diperkirakan terus bergulir, menandai babak baru perlawanan publik di Negeri Paman Sam.





