
XBerita.com – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah memicu efek domino terhadap perekonomian global, terutama di sektor energi.
Sejak akhir Februari 2026, konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memicu eskalasi besar di kawasan tersebut. Iran kemudian memperingatkan kapal-kapal asing untuk tidak melintas, sementara serangkaian serangan terhadap kapal dagang membuat lalu lintas pelayaran anjlok drastis.
Bahkan dalam beberapa hari terakhir, aktivitas kapal tanker di Selat Hormuz dilaporkan hampir berhenti total, karena perusahaan pelayaran global menunda perjalanan akibat risiko keamanan yang sangat tinggi.
Insiden terbaru memperlihatkan betapa gentingnya situasi. Beberapa kapal dagang dilaporkan terkena serangan proyektil dan drone di kawasan selat tersebut, memicu kebakaran dan evakuasi awak kapal.
Lonjakan risiko ini langsung mengguncang pasar energi dunia. Harga minyak mentah global sempat melonjak hingga di atas USD100 per barel, bahkan sempat mendekati USD120 per barel sebelum kembali berfluktuasi.
Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dipicu konflik kawasan tersebut membuat sejumlah negara mulai menerapkan langkah darurat untuk menghemat konsumsi energi.
Pemerintah Pakistan menjadi salah satu yang pertama mengambil kebijakan drastis. Otoritas negara tersebut memberlakukan sistem work from home (WFH) bagi 50 persen pegawai serta memperpanjang masa libur sekolah guna menekan penggunaan listrik dan bahan bakar.
Langkah serupa juga ditempuh Bangladesh. Pemerintah di negara itu memutuskan meliburkan sekolah dan kampus lebih awal serta membatasi pembelian BBM sebagai upaya mengendalikan konsumsi energi yang melonjak.
Sementara itu di Asia Tenggara, Presiden Ferdinand Marcos Jr. mengumumkan kebijakan baru di Filipina. Pemerintah menerapkan sistem kerja empat hari dalam sepekan bagi kantor-kantor pemerintah, kebijakan yang mulai berlaku sejak 9 Maret 2026 lalu sebagai bagian dari strategi efisiensi energi nasional.
Berbeda dengan negara lainnya, pemerintah Myanmar memilih cara unik untuk mengurangi konsumsi bahan bakar. Otoritas setempat menerapkan sistem ganjil-genap bagi kendaraan pribadi, sehingga penggunaan BBM dapat ditekan secara langsung di sektor transportasi.
Lonjakan harga energi global sendiri dipicu ketegangan geopolitik yang melibatkan sejumlah negara besar, termasuk Iran dan Amerika Serikat. Konflik tersebut mengganggu stabilitas pasokan minyak dunia dan memicu volatilitas harga energi di pasar internasional.
Situasi ini menunjukkan bahwa perang di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada negara-negara yang terlibat konflik, tetapi juga menciptakan krisis energi global yang memaksa berbagai negara menerapkan kebijakan darurat untuk menjaga stabilitas ekonomi.





